|
MATERIAL
CETAKAN
Beberapa aktivitas
telah terlaksana di tahun anggaran 2002. Proyek telah
memproduksi:
Pengembangan
Buku Ajaran
Untuk membantu
siswa menguasai pelajaran dan untuk mengatasi kesulitan siswa
dalam dalam menggunakan buku ajar berbahasa Inggris, FMIPA
telah menyokong pembuatan buku ajaran baru untuk siswa pra-dan
in-service, sehingga siswa LPTK memiliki buku refferensi dalam
bahasa Indonesia. Ada dua jenis
buku ajaran yaitu, buku
ajaran umum dan buku
ajaran individual.
|
Buku
ajaran individual di JICA-IMSTEP
|
Ada
beberapa tahap dalam pengembangan buku ajaran umum. Setiap
jurusan dari tiga(3) Universitas (UPI, UNY, UM) mengundang
anggota fakultas untuk menulis buku ajaran dengan menyerahkan
garisa besar buku ajaran.
Silabus dan kurikulum
Berdasarkan
survey sekolah pada awal proyek ini, staf pengajar di FMIPA di
tiga (3) Universitas, peserta telah menelaas dan merevisi
silabus untuk program pelatihan guru pre-dan in-service agar
lebih sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
Masing-masing
jurusan dari ketiga Univesitas menyebarkan silabus yang telah
direvisi ke staf pengajar dan siswa sebagai bahan acuan.
Setelah revisi silabus, proyek ini juga monitor terhadap
kesesuaian dari silabus telah direvisi untuk program pelatihan
guru pre-dan in-service sejak tahun anggaran 2000/2001 dan
berlanjut hingga tahun anggaran 2002/2003.
|
Silabus
dan Kurikulum diproduksi oleh 3 Universitas |
Aktivitas
monitoring tersebut termasuk pengembangan instrumen untuk
monitoring, seleksi matakuliah yang hendak dimonitor, dan
implementasi monitoring. Angket diserahkan ke pengajar dan
siswa untuk mengupulkan data. Masing-masing jurusan di 3
Universitas (UPI, UNY, UM) telah melaksanakan kegiatan
monitoring ini. Hasilnya menjadi masukan untuk memperbaharui
silabus khususnya isi matakuliah sehingga menjadi lebih
relevan.
Jurnal
|
Jurnal
ada di JICA-IMSTEP |
PENULISAN BUKU TEKS KIMIA SLTP
Pendahuluan
Antara teori dan
praktik selalu terdapat kesenjangan; jadi bagi setiap 'perubahan'
perlu diupayakan agar kesenjangan tidak membesar atau kalau
mungkin dijembatani. Terutama bagi suatu pembaharuan, guru perlu
dilengkapi dengan kemampuan untuk menyederhanakan dan memudahkan
kurikulum agar mampu membuat jembatan tersebut. Jembatan ini
diharapkan berfungsi menerjemahkan situasi ideal dari silabus
baru ke dalam situasi ril mengajar. Situasi ril berbeda dari
situasi ideal karena adanya kendala waktu, sarana, dan budaya
sekolah. Perbedaan ini mash dipersulit karena kendala tersebut
beragam menurut sekolah dan lokasi. Jadi, diperlukan suatu
wawasan untuk mendasari setiap strategi mengajar agar penerapan
silabus optimal.
Penggunaan istilah menerjemahkan meruapakan pengakuan terhadap
keberadaan kendala diatas yang menjadi dasar untuk
menyederhanakan dan memudahkan suatu silabus. Jadi pertanyaan
besar yang perlu dipecahkan adalah bagaimana wujud dari upaya
menyederhanakan dan memudahkan tersebut agar Kurikulum dan Hasil
Belajar cukup fleksibel untuk diolah oleh guru.
Analisis yang dikemukakan dalam makalah ini merupakan dasar
untuk menerjemahkan silabus ke dalam berbagai bentuk strategi
yang cocok dengan model pembelajaran tertentu tanpa perlu
mengorbankan guru (dengan menambah beban atau aturan mengajar)
atau juga tuntutan kurikulum. Lebih khusus, makalah ini
dimaksudkan sebagai wawasan bagi guru-guru agar lebih
berkemampuan untuk menerjemahkan kurikulum menurut kondisi
sekolah yang cukup beragam. Wawasan tersebut memungkinkan guru
menerapkan strategi tertentu ke dalam model-model pembelajaran (mengajar)
yang diperkenalkan untuk lebih memudahkan penguasaan kompetensi
yang diharapkan.
Pengembangan model tersebut berangkat dari pemahaman yang lebih
kritis mengenai ketrampilan guru dalam mengolah materi-subyek.
Proses belajar-mengajar sebenarnya dapat lebih produktif jika
dilihat sebagai upaya bersama membangun pengetahuan (kompetensi?)
antara guru (sebagai pengendali wacana), pembelajar (sebagai
pemula), dan materi-subyek (sebagai rujukan). Proses membangun
tersebut berlangsung secara wajar berdasarkan hubungan
antar-ketergantungan yang saling menguntungkan.
Pandangan seperti diatas memberikan peluang bagi pengajar untuk
memanipulasi PBM agar kondisi kritis pembelajaran dapat dipenuhi,
yaitu, kondisi yang memungkinkan pembelajar melihat bangunan
dari materi-subyek pembelajaran. Hanya dengan memenuhi kondisi
tersebut efek percepatan pembelajaran mewujud, dan perlu dilihat
sebagai akibat dari mewujudnya kompentensi ysng diinginkan.
Hal yang sama juga terjadi pada proses mengajar: Jika guru
dengan seksama mampu mengorganisasikan berbagai komponen
mengajar menjadi suatu bangunan yang dapat dilihat oleh
pembelajar (disebut struktur makro), efek percepatan mengajar
baru akan berlangsung. Jadi strategi yang diperlukan untuk
mengatasi kesenjangan antara teori dan praktek terletak pada
kemampuan guru menghubungkan struktur materi-subyek dengan
struktur mengajarnya. Hanya dengan melibatkan struktur makro
baru kemudian pembicaraan mengenai efektifitas proses belajar
dan mengajar menjadi lebih rasional.
Fenomena yang mendasari pedagogi materi-subyek adalah fenomena
permainan zig saw puzzle untuk anak-anak pra sekolah. Dalam
permainan ini, anak-anak bertugas menyusun potongan gambar pada
karton yang disediakan. Setelah susunan potongan-potongan gambar
mulai menampilkan gambar tertentu, laju penyusunan
potongan-potongan tersebut tiba-tiba mengalami peningkatan.
Situasi inilah yang disebut situasi kritis karena penampakan
suatu bangunan pengetahuan tertentu memberikan efek percepatan
dalam pembelajaran.
Pendekatan lain yang juga penting dalam menganalisis silabus SMP
adalah dengan membandingkan pekerjaan serupa yang menurut
pandangan keademikan dilihat dari sejarahnya telah mencapai
tingkat pengembangan tertentu. Pilihan jatuh pada kurikulum
Korea karena negara ini mempunyai keterikatan dengan kurikulum
AS, mungkin juga Indonesia; jadi cukup relevan untuk dijadikan
sebagai referensi.
Anda bisa
men-download selengkapnya
disini
NEWSLETTER
MATERI
PENGAJARAN
Counterpart di
tiga Universitas (UPI, UNY, UM) akan mengembangkan materi
pengajaran, baik berupa transparansi maupun materi pengajaran
berdasarkan penggunaan komputer untuk meningkatkan pemahaman
siswa dan menolong siswa untuk menguasai isi matakuliah.
Materi pengajaran yang dikembangkan akan disimpan dalam bentuk
VCD agar dapat digunakan oleh pengajar dalam kegiatan
pengajaran atau oleh siswa sebagai fasilitas tutorial mandiri.
PROTOTIPE
Sebagai
tambahan, counterpart telah mengembangkan tipe lain dari
materi pengajaran, seperti prototipe peralatan. Sebagai contoh,
aparatus organik berskala mikro, sehingga alat ini bisa
mengurangi limbah kimia yang menggangu lingkungan.
Pada
awal tahun ini, anggota fakultas dan guru sekolah telah
mengembangkan aparatus berbiaya murah sebagai materi
pengajaran yang dicoba pada kegiatan piloting. Misalnya:
Mikroorganik Kit.
|
Contoh
Prototipe (Microorganic Kit) |
|