Proyek Aktivitas Lokasi Materil Peralatan Peristiwa Koneksi

Home

English

 

LESSON STUDY KIMIA DI SMAN 9 BANDUNG

 

SMAN 9 Bandung menyelenggarakan lesson study ke-2 untuk mata pelajaran kimia pada tanggal 23 November 2005. Sebelumnya SMAN 9 Bandung menyelenggarakan lesson Biologi pada tanggal 17 Oktober 2005. Ibu Dra. Dede Suartini, guru kimia, menyajikan pembelajaran tentang pengertian mol, hubungan mol dengan jumlah partikel, massa dan volum molar gas menerapkan metode diskusi kelompok menggunakan pola Jigsaw kepada siswa kelas X-3 yang berjumlah 40. Kegiatan lesson kimia dihadiri oleh 16 orang observer yang terdiri dari guru bidang studi kimia 3 orang, biologi 2 orang, guru bahasa Inggris 3 orang dan guru bahasa Indonesia 1 orang, mahasiswa PPL 1 orang, dosen UPI 2 orang, dan dosen LPTK lain peserta pelatihan kemitraan LPTK-sekolah sebanyak 4 orang.

 Kegiatan lesson study yang dilakukan sesuai dengan tahapan proses lesson studi, yaitu PLAN, DO, SEE.

 Plan

Tahap perencanaan yang dilakukan berupa pembuatan rencana pembelajaran dan LKS oleh guru pengajar (Dra. Dede Suartini). Rencana dan LKS tersebut dikonsultasikan ke dosen-dosen tim lesson studi Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI pada hari senin tanggal 21 Nopember 2005 dan disarankan memasukan kontekstual terkait dengan materi yang diberikan, yaitu mol. Konsep mol dapat dikaitkan dengan penggunaan satuan-satuan dalam kehidupan sehari-hari dan pentingnya memahami konsep mol pada dunia industri yang terkait dengan kimia. Selanjutnya rencana pembelajaran dan LKS disempurnakan oleh guru yang bersangkutan dan diuji coba di kelas X C pada hari Selasa tanggal 22 Nopember 2005.

 Do

   Pelaksanaan lesson study pada hari Rabu tanggal 23 Nopember 2005 jam 07.00 – 09.15 di kelas X B. Kegiatan ini dilaksanakan di laboratorium (meskipun tidak praktikum) karena untuk memudahkan mobilitas dari kegiatan yang melaksanakan pembelajaran dengan sistem diskusi dalam dua kelompok diskusi yang berbeda (kelompok asal dan kelompok ahli). Selain itu laboratorium lebih luas dari pada kelas sehingga dengan adanya 16 orang observer dan 2 orang kameraman diharapkan tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM). KBM yang dilaksanakan berjalan dengan lancar diawali dengan apersepsi tentang satuan-satuan yang umum digunakan, seperti lusin, kodi, gross, gram dan lain-lain. Selain itu dijelaskan pula tentang perlunya satuan tertentu yang digunakan dalam penggunaan zat-zat kimia, seperti pada pembuatan obat, industri semen dan lain-lain. Selanjutnya untuk memandu pada kegiatan inti digunakan LKS yang telah dipersiapkan oleh guru yang harus diselesaikan oleh siswa secara kelompok (ada 10 kelompok, masing-masing terdiri dari 4 siswa). Selain itu untuk menyelesaikan soal-soal yang terkait dengan materi yang diajarkan, siswa harus berkelompok (sebagai tim ahli) sesuai dengan kesamaan warna kartu pertanyaan yang diperolehnya (merah, biru, kuning dan hijau). Hasil tim ahli kemudian dibawa lagi ke kelompok asal dan didiskusikan kembali. Hasil ini selanjutnya ditunjukkan oleh perwakilan kelompok dengan cara menuliskannya di papan tulis. Pada akhir KBM guru memberikan kesimpulan yang ditayangkan dalam bentuk tulisan yang telas dituliskan dalam karton manila, dan membacakannya.

 SEE

   Kegiatan refleksi terhadap pelaksanaan lesson study dilaksanakan di ruang guru dan dihadiri oleh 6 orang guru observer (guru observer lain harus mengajar), 1 orang wakil kepala sekolah bidang kurikulum, 4 orang dosen LPTK peserta pelatihan dan 3 orang dosen UPI (tim lesson study). Waktu pelaksanaan mulai jam 09.15 s/d 11.00. Kesempatan pertama pada kegiatan refleksi diberikan kepada guru pengajar. Beliau menjelaskan tentang model pembelajaran yang digunakan berpedoman pada model Contextual Learning yang dikembangkan oleh Jigsaw. Model ini menggunakan pengelompokan berupa kelompok asal dan kelompok ahli.

    Kesempatan kedua diberikan kepada perwakilan pimpinan sekolah yang diwakili oleh Wakasek kurikulum. Beliau menjelaskan bahwa kegiatan lesson study di SMAN 9 ini merupakan kegiatan yang kedua, sebelumnya mata pelajaran biologi sudah melakukannya. Tanggapan terhadap lesson study menurutnya merupakan kegiatan yang sangat positif, terutama untuk menghasilkan proses pembelajaran yang berkualitas. Dari kegiatan ini dapat saling “sharing” pengalaman dan saling belajar dari kenyataan pembelajaran yang terjadi di kelas, sekaligus saling memperbaiki diri. Kesempatan ketiga diberikan pada perwakilan UPI yang menjelaskan tentang sedikit kronologis kerjasama yang telah dilakukan antara SMAN 9 Bandung dengan FPMIPA UPI, dimulai dengan kegiatan piloting yang berjalan + 3 tahun, dan sekarang dilanjutkan dengan program lesson study. Selain itu ditekankan pula bahwa pada proses pembelajaran IPA khususnya, harus dapat menggunakan prinsip hands-on and minds-on activity, daily life, and local material. Kesempatan keempat diberikan pada para guru observer yang menanggapi tentang pelaksanaan lesson study, diantaranya tanggapan berupa:

-       Interaksi guru-siswa, siswa-siswa dan pengelolaan kelas perlu lebih ditingkatkan.

-       Sebenarnya pengertian lesson study belum difahami betul.

-       Dengan model pembelajaran yang diterapkan ternyata ada perubahan yang terjadi, misalnya salah seorang siswa yang tadinya pada kelompok asal tidak menunjukkan aktifitas diskusi yang baik, setelah dikelompokkan dalam kelompok ahli menjadi aktif, dan setelah kembali lagi ke kelompok asal ternyata dapat aktif berdiskusi

Kesempatan terakhir diberikan kepada dosen LPTK lain peserta pelatihan yang menanggapi keseluruhan kegiatan, diantaranya tanggapan berupa:

-       Sebaiknya semua observer memberi tanggapan dan ada pembagian tugas diantara observer tentang bagian-bagian dari keseluruhan proses yang menjadi fokus perhatiannya. Selain itu observer juga perlu diberi orientasi bagaimana menjadi observer yang benar.

-       Sebaiknya LKS yang diberikan berbasis masalah, selain itu prinsip model Jigsaw adalah poblem yang dibahas tim ahli harus berbeda.

-      Siswa lebih percaya pada buku sehingga terjadi loncatan pengetahuan yang tidak diinginkan yang berasal dari buku, sehingga tahapan berpikir tidak terpolakan dengan baik.

-       Jawaban yang diharapkan dari siswa sebaiknya tidak dalam bentuk tulisan tapi biasakan siswa untuk mengungkapkan pendapat dan argumentasinya dalam bentuk lisan.

-       Untuk menerapkan konsep mol sebaiknya diberikan pengalaman ril dengan menganalogikan menghitung jumlah partikel dengan menghitung biji-bijian sejumlah tertentu, kemudian menimbang dengan massa tertentu yang disetarakan dengan satuan mol.

-       Apakah jika project sudah selesai “sustanability” nya dapat dipertahankan?

-       Apa kendala yang dialami dalam pelaksanaan kegiatan ini?

Tanggapan guru dan perwakilan sekolah terhadap dua pertanyaan terakhir dari dosen LPTK adalah bahwa kendala terutama jumlah siswa yang masih besar, yaitu rata-rata 1 kelas 40 – 42 orang siswa. Sedangkan untuk keberlanjutan model lesson study ini karena dirasakan manfaatnya oleh para guru maka akan diusahakan untuk menerapkannya lebih jauh dan tidak hanya pada rumpun bidang studi IPA saja.

 

Proyek | AktivitasLokasiMateril  | Peralatan | Peristiwa | Koneksi